Selasa, 27 November 2012

Mengapa Manusia perlu di didik?


BAB I
PENDAHULUAN


1.1  Latar Belakang Masalah

Adapun latar belakang penulis dalam mengerjakan makalah ini adalah untuk mengetahui lebih jelas tentang mengapa manusia perlu untuk dididik khususnya untuk mata kuliah Pengantar Ilmu Pendidikan. Selain itu makalah ini dibuat sebagai wadah untuk memperluas wawasan mahasiswa mengenai perlunya pendidikan secara menyeluruh.

1.2  Maksud dan Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan makalah ini adalah :
a.    Melatih mahasiswa mengembangkan bahan ajar melalui karya tulis.
b.   Mendidik mahasiswa untuk mengetahui lebih banyak tentang materi yang
     dijelaskan.
c. Agar mahasiswa mampu menjelaskan materi mengapa manusia perlu dididik
     secara menyeluruh dengan cermat
.
1.3  Rumusan Masalah
Rumusan masalah yang kami angkat dalam makalah ini adalah :
1.      Mengapa manusia perlu dididik ?
2.      Apa saja batas-batas kemungkinan pendidikan ?
3.      Bagaimana hasil dari Pendidikan tersebut ?
BAB II
ISI


2.1 Mengapa Manusia Perlu Dididik ?
Bertolah dari aliran konvergensi inilah saya mencoba menganalisa dan memberi jawab mengapa manusia perlu mendapatkan pendidikan dan mengapa manusia harus dapat mendidik ?
Seperti telah diuraikan diatas bahwa pada hakekatnya manusia itu adalah animal educable (binatang yang dapat dididik), animal educandum (binatang yang harus dididik) dan homo educandus( makhluk yang dapat mendidik). Dari hakekat ini jelas bahwa pendidikan itu merupakan keharusan mutlak bagi manusia. Oleh karena itu mengapa manusia perlu dididik maka dapat ditinjau dari berbagai aspek.[1]
Pada waktu kehidupan permulaan (bayi/anak-anak), mula-mula yang paling berperan adalah dari segi fisik, kemudian secara berangsur-angsur segi rohani berganti memegang peranan penting. Perkembang fisik individu ditentukan oleh dua faktor yaitu maturation (kematangan) dan learning (belajar).

Seorang anak akan dapat berjalan jika memiliki tulang-tulang kaki dan otot yang cukup kuat disertai dorongan untuk berjalan adalah faktor kematangan. Tetapi kematangan itu sendiri belum cukup untuk memiliki kemampuan untuk berjalan, ia harus belajar terus dan dibantu oleh orang lain.
Ditinjau dari sisi lain hakekat manusia adalah sebagai makhluk individu dan sosial, terdiri dari unsur jiwa dan raga yang diciptakan oleh Tuhan lewat hubungan orang tua untuk hiduh bersama secara sah lewat pernikahan, karena itu secara kodrat orang tua harus mendidik anak-anaknya secara bertanggung jawab.[2]
Orang tua tidak cukup hanya memberikan makan minum pakaian kepada anaknya, tetapi harus berusaha bagaimana agar anaknya menjadi pandai, bahagia dan berguna bagi masyarakat, bangsa dan negara.
Pada hakekatnya usaha-usaha yang dlakukan dalam pendidikan memang tertuju pada masalah keseimbangan, keselarasan, keserasian perkembangan kepribadian dan kemampuan manusia. Emmanuel Kant mengatakan bahwa “ manusia hanya dapat menjadi manusia karena pendidikan”.
Prof. Dr. N. Driyarkoro memberi istilah “hominisasi ke humanisasi“ (memanusiakan manusia). Jadi jika manusia itu tidak dididik maka tidak akan menjadi manusia yang sebenarnya.
Perkembangan manusia dipengaruhi oleh faktor dari dalam dirinya dan faktor dari luar. Faktor dari dalam meliputi semua potensi yang dibawa sejak lahir, potensi ini tetap terpendam apabila tidak dikembangkan melalui pendidikan, ini pun juga tergantung dari kemauan (aktivitet). Jadi pendidikan fungsinya untuk mengaktualisasikan potensi-potensi tersebut. Faktor dari luar yang dapat mempengaruhi perkembangan manusia yaitu lingkungan alam. Artinya lingkungan anak dengan anak, anak dengan orang dewasa, orang dewasa dengan orang dewasa yang saling berinteraksi. Lingkungan budaya berupa sopan santun, TV dan majalah. Serta lingkungan alam secara geografisnya, namun karena perkembangan iptek pengaruh lingkungan alam dapat diatasi.[3]
2.2 Batas-batas Kemungkinan Pendidikan
            Dalam menentukan batas batas pendidikan manusia akan mengalami persoalan, mereka akan menemui   beberapa pertanyaan tentang kapan pendidikan dimulai dan bila mana pendidikan akan berakhirDan juga pernah kita temukan satu istilah dalam bahasa inggris yang menyatakan : "Long Live Education” yang artinya  “Pendidikan Seumur Hidup”.
Dari pernyataan pernyatan tersebut tergambarkan jelas bahwa pendidikan akan dimulai segera setelah anak lahir dan akan berlangsung terus sampai manusia meninggal dunia, sepanjang ia mampu menerima pengaruh-pengaruh. Oleh karena itu pendidikan akan berlangsung seumur hidup.

            Namun dalam mengalami proses pendidikan menusia akan mendapatkan pendidikan dimana akan terdapat pembatasan nyata dari proses pendidikan dalam jangka waktu tertentu. [4]

1.    Kapan pendidikan itu dimulai ?

            Pendidikan dimulai dengan pemeliharaan yang merupakan persiapan ke arah pendidikan nyata, yaitu pada minggu dan bulan pertama seorang anak dilahirkan, sedangkan pendidikan yang sesungguhnya baru terjadi kemudian. Pendidikan dalam bentuk pemeliharaan adalah bersifat murni, sebab pada pendidikan murni diperlukan adanya kesadaran mental dari si terdidik.
Dari segi psikologis usia 3 – 4 tahun dikenal sebagai masa berkembang atau masa krisis, dari segi pendidikan justru pada masa itu terbuka peluang ketidak patuhan yang sekaligus merupakan landasan untuk menegakkan kepatuhan yang sesungguhnya. Disini pulalah mulai terbuka penyelenggaraan pendidikan artinya sentuhan-sentuhan pendidikan untuk menumbuh kembangkan motivasi anak dalam perilakunya ke arah tujuan pendidikan.





2.    Bilamana pendidikan itu berakhir ?

            Sebagaimana sulitnya menetapkan kapan sesungguhnya pendidikan anak berlangsung untuk pertama kalinya, begitu pulalah sulitnya menentukan kapan pendidikan itu berlangsung untuk terakhir kalinya.
Sehubungan dengan itu, perlu suatu kehati-hatian kalau juga ingin mengatakan bahwa sepanjang tatanan yang berlaku, proses pendidikan itu mempunyai titik akhir yang bersifat alamiah. Titik akhir bersifat prinsipel  dan tercapai bila seseorang manusia muda itu dapat berdiri sendiri dan secara mantap mengembangkan serta melaksanakan rencana sesuai pandangan hidupnya.
Pada kondisi yang disebutkan di atas pendidikan sudah tidak menjadi masalah lagi, ia telah dapat mendidik dirinya sendiri, tetapi tidaklah dapat disangkal bahwa mungkin juga diperlukan untuk tetap menerima ajaran dalam bidang-bidang tertentu dalam memajukan kehidupanya, bantuan pendidikan yang demikian itu disebut pembentukan manusia dewasa.
            Adapun secara umum yang disebut manusia dewasa adalah :

                  1.   Manusia mandiri
Dapat hidup sendiri, mengambil keputusan sendiri tanpa menggantungkan diri kepada orang lain.

                  2.    Manusia yang bertanggung jawab
 Manusia yang dapat mempertanggungjawabkan segala perbuatannya
 dan dapat dimintai pertanggung jawaban dari perbuatannya.



3.    Manusia yang mampu memahami dan melakukan norma serta            moral dalam kehidupan
Maka dari itu, manusia dewasa akan lebih dapat mendidik dirinya sendiri dibandingkan orang lain, namun dalam keadaan tertentu manusia dewasa juga akan membutuhkan didikan dari orang lain.

2.3  Hasil Pendidikan
Hasil Pendidikan berupa perubahan sikap dan tingkah laku. Contohnya, penambahan keterampilan, pengetahuan, cara bersosialisasi, menerapkan aturan, tata karma dan nilai-nilai. [5]








BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Dari seluruh uraian pada bab pembahasan, penulis dapat menarik kesimpulan yaitu :
1.      Manusia harus dididik, karena manusia lahir dalam keadaan tak berdaya, lahir tidak langsung dewasa dan merupakan makhluk social yang membutuhkan interaksi dengan orang lain.

2.   Manusia dapat di didik karena manusia dapat memiliki, memperbaiki dan         mengembangkan hati nurani, perasaan, nilai-nilai atau norma susila yang    dapat membedakan dirinya dengan makhluk lain. Pendidikan akan di     alami manusia seumur hidup, namun batas batas nyata kemungkinan           pendidikan pada manusia dimulai sejak manusia tersebut memiliki          kesiapan dalam berinteraksi edukatif hingga mencapai kedewasaan yang    dilalui dengan proses kematangan.

            Manusia adalah subjek pendidikan sekaligus objek pendidikan. Sebagai subjek pendidikan, manusia (dewasa) bertanggung jawab dalam menyelenggarakan pendidikan secara moral, berkewajiban atas perkembangan pribadi anak-anak mereka.
            Sebagai objek pendidikan, manusia (anak) merupakan sasaran pembinaan dalam melaksanakan pendidikan yang pada hakikatnya ia memiliki pribadi yang sama seperti manusia dewasa namun karena kodratnya belum berkembang. [6]
Dalam realita sekarang ini banyak anak didik yang moralnya buruk, seperti tawuran, memakai narkoba, dll. Untuk itu pendidikan agama harus ditingkatkan, baik itu di keluarga, sekolah, maupun lingkungan masyarakat. Dengan ditanamkannya ajaran tentang agama sejak dini sehingga anak didik akan dapat membedakan antara yang baik dan yang buruk. Betapa pentingnya pendidikan agama bagi warga negara Indonesia, terbukti dari peraturan pemerintah yang mengharuskan pendidikan agama diberikan sejak anak itu bersekolah di TK sampai perguruan tinggi.
Berdasarkan hakekat manusia dan hakekat pendidikan, kiranya cukup jelas dalam memberikan alasan mengapa manusia perlu dididik, pendidikan harus dapat mengembangkan semua potensi yang ada pada manusia. Baik perkembangan cipta, rasa, karsa, keterampilan, jasmani dan rohani, moral maupun ke Tuhanan dan didukung oleh lingkungan yang kondusif terhadap pertumbuhan si anak menuju kedewasaannya.



[1] Ekosusilo, M dan Kasihadi, R.B. 1993. Dasar-dasar pendidikan, Semarang : Effhar Publishing.

[2] Hasbullah,2006. Dasar-dasar ilmu pendidikan, Jakarta. PT Raja Grafindo Persada

[3] Hidayanto, D.N. 2007. Pemikiran pendidikan dari filsafat ke ruang kelas . Jakarta : Transwacana.

[4] (Daradjat, 2000:48 )
[5] Melianie, S.M, Dra, M. Pd. 2009. Pengantar Ilmu Pendidikan, Jakarta : Universitas Negeri Jakarta.
[6] (Sadullah, 2001:80).

0 komentar:

Poskan Komentar

Followers

 
;