Tampilkan postingan dengan label PIP. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PIP. Tampilkan semua postingan
Selasa, 27 November 2012 0 komentar

APAKAH PENDIDIKAN ITU ?


APAKAH PENDIDIKAN ITU ?
M.J. Langeveld (1995) :
  1. Pendidikan merupakan upaya manusia dewasa membimbing manusia yang belum dewasa kepada kedewasaan
  2. Pendidikan ialah usaha menolong anak untuk melaksanakan tugastugas hidupnya, agar bisa mandiri, akil-baliq, dan bertanggung jawab secara susila
  3. Pendidikan adalah usaha mencapai penentuan-diri-susila dan tanggung jawab
Pengertian pendidikan secara umum:
Pendidikan adalah : Usaha sadar yang dilakukan menusia dewasa yang bertanggung jawab membantu anak menjadi dewasa[1].
Usaha sadar : pendidikan akan terlaksana jika adanya keinginan yang kuat untuk merubah sesuatu dalam diri kita, dari tahu menjadi lebih tahu, dari bisa menjadi lebih bisa, dan dari baik menjadi lebih baik. Usaha pendidikan memiliki tujuan tertentu sesuai jenjangnya.
a.       Manusia dewasa yang bertanggung jawab atas pendidikan terdiri dari :
-          Orang tua yang bertanggung jawab terhadap pendidikan putra putrinya
-          Guru/pendidik,pelatih yang bertanggung jawab sesuai penugasan yang diterimanya (jadi diperlukan surat keputusan SK, untuk dapat melaksanakan kegiatan mengajar)
-          Tokoh masyarakat (pejabat, kiayi, orang yang disegani) dapat membantu pendidikan sesuai dengan proporsinya.
b.      Cirri-ciri Dewasa
-          Mandiri
-          Berguna bagi orang lain
-          Bertanggung jawab
-          Dapat menghargai aturan/norma
c.       Membantu artinya dengan ikhlas, berniat baik tanpa merasa terpaksa



Pentingnya pendidikan
Pendidikan merupakan hal yang terpenting dalam kehidupan kita,ini berarti bahwa setiap manusia berhak mendapat dan berharap untuk selalu berkembang dalam pendidikan. Pendidikan secara umum mempunyai arti suatu proses kehidupan dalam mengembangkan diri tiap individu untuk dapat hidup dan melangsungkan kehidupan. Sehingga menjadi seorang yang terdidik itu sangat penting. Pendidikan pertama kali yang kita dapatkan di lingkungan keluarga, lingkungan sekolah dan lingkungan masyarakat.
Seorang anak yang disayangi akan menyayangi keluarganya ,sehingga anak akan merasakan bahwa anak dibutuhkan dalam keluarga. Sebab merasa keluarga sebagai sumber kekuatan yang membangunya.Dengan demikian akan timbul suatu situasi yang saling membantu,saling menghargai,yang sangat mendukung perkembangan anak.Di dalam keluarga yang memberi kesempatan maksimum pertumbuhan,dan perkembangan adalah orang tua.Dalam lingkungan keluarga harga diri berkembang karena dihargai,diterima,dicintai,dan dihormati sebagai manusia .Itulah pentingnya mengapa kita menjadi orang yang terdidik di lingkungan
keluarga.Orang tua mengajarkan kepada kita mulai sejak kecil untuk menghargai orang lain.
Sedangkan di lingkungan sekolah yang menjadi pendidikan yang kedua dan apabila orang tua mempunyai cukup uang maka dapat melanjutkannya ke jenjang yang lebih tinggi dan akan melanjutkan ke Perguruan Tinggi kemudian menjadi seorang yang terdidik . Alangkah pentingnya pendidikan itu. Guru sebagai media pendidik memberikan ilmunya sesuai dengan kemampuan yang dimiliki. Peranan guru sebagai pendidik merupakan peran  memberi bantuan dan dorongan ,serta tugas-tugas yang berkaitan dengan mendisiplinkan anak  agar anak dapat mempunyai rasa tanggung jawab dengan apa yang dia lakukan. Guru juga harus berupaya agar pelajaran yang diberikan selalu cukup untuk menarik minat anak .
Selain itu peranan lingkungan masyarakat juga penting bagi anak  didik . Hal ini berarti memberikan gambaran tentang bagaimana kita hidup bermasyarakat.Dengan demikian bila kita berinteraksi dengan masyarakat maka mereka akan menilai kita,bahwa  tahu mana orang yang terdidik,dan  tidak terdidik. Di zaman Era Globalisasi diharapkan generasi muda bisa mengembangkan ilmu yang didapat sehingga tidak ketinggalan dalam perkembangan zaman. Itulah pentingnya menjadi seorang yang terdidik baik di lingkungan Keluarga,Sekolah,dan Masyarakat.
Pendidikan formal, informal dan nonformal
Pendidikan  formal  adalah  kegiatan  yang  sistematis,  bertingkat/berjenjang, dimulai dari  sekolah dasar sampai dengan perguruan tinggi dan yang setaraf dengannya;   termasuk   kedalamnya   ialah   kegiatan   studi   yang   berorientasi akademis  dan  umum,  program   spesialisasi,  dan  latihan  professional,  yang dilaksanakan dalam waktu yang terus menerus.
Pendidikan informal adalah proses yang berlangsung sepanjang usia sehingga sehingga setiap  orang memperoleh nilai, sikap, keterampilan, dan pengetahuan yang  bersumber  dari   pengalaman  hidup  sehari-hari,  pengaruh  lingkungan termasuk di dalamnya adalah pengaruh  kehidupan keluarga, hubungan dengan tetangga, lingkungan pekerjaan dan permainan, pasar, perpustakaan, dan media massa.
Pendidikan nonformal ialah setiap kegiatan teroganisasi dan sistematis, di luar sistem  persekolahan yang , dilakukan secara mandiri atau merupakan bagian penting dari kegiatan  yang lebih luas, yang sengaja dilakukan untuk melayani peserta didik tertentu di dalam mancapai tujuan belajarnya.












[1] Dra. Sri Martini Meilanie, M.Pd (hlm. 14)
0 komentar

Mengapa Manusia perlu di didik?


BAB I
PENDAHULUAN


1.1  Latar Belakang Masalah

Adapun latar belakang penulis dalam mengerjakan makalah ini adalah untuk mengetahui lebih jelas tentang mengapa manusia perlu untuk dididik khususnya untuk mata kuliah Pengantar Ilmu Pendidikan. Selain itu makalah ini dibuat sebagai wadah untuk memperluas wawasan mahasiswa mengenai perlunya pendidikan secara menyeluruh.

1.2  Maksud dan Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan makalah ini adalah :
a.    Melatih mahasiswa mengembangkan bahan ajar melalui karya tulis.
b.   Mendidik mahasiswa untuk mengetahui lebih banyak tentang materi yang
     dijelaskan.
c. Agar mahasiswa mampu menjelaskan materi mengapa manusia perlu dididik
     secara menyeluruh dengan cermat
.
1.3  Rumusan Masalah
Rumusan masalah yang kami angkat dalam makalah ini adalah :
1.      Mengapa manusia perlu dididik ?
2.      Apa saja batas-batas kemungkinan pendidikan ?
3.      Bagaimana hasil dari Pendidikan tersebut ?
BAB II
ISI


2.1 Mengapa Manusia Perlu Dididik ?
Bertolah dari aliran konvergensi inilah saya mencoba menganalisa dan memberi jawab mengapa manusia perlu mendapatkan pendidikan dan mengapa manusia harus dapat mendidik ?
Seperti telah diuraikan diatas bahwa pada hakekatnya manusia itu adalah animal educable (binatang yang dapat dididik), animal educandum (binatang yang harus dididik) dan homo educandus( makhluk yang dapat mendidik). Dari hakekat ini jelas bahwa pendidikan itu merupakan keharusan mutlak bagi manusia. Oleh karena itu mengapa manusia perlu dididik maka dapat ditinjau dari berbagai aspek.[1]
Pada waktu kehidupan permulaan (bayi/anak-anak), mula-mula yang paling berperan adalah dari segi fisik, kemudian secara berangsur-angsur segi rohani berganti memegang peranan penting. Perkembang fisik individu ditentukan oleh dua faktor yaitu maturation (kematangan) dan learning (belajar).

Seorang anak akan dapat berjalan jika memiliki tulang-tulang kaki dan otot yang cukup kuat disertai dorongan untuk berjalan adalah faktor kematangan. Tetapi kematangan itu sendiri belum cukup untuk memiliki kemampuan untuk berjalan, ia harus belajar terus dan dibantu oleh orang lain.
Ditinjau dari sisi lain hakekat manusia adalah sebagai makhluk individu dan sosial, terdiri dari unsur jiwa dan raga yang diciptakan oleh Tuhan lewat hubungan orang tua untuk hiduh bersama secara sah lewat pernikahan, karena itu secara kodrat orang tua harus mendidik anak-anaknya secara bertanggung jawab.[2]
Orang tua tidak cukup hanya memberikan makan minum pakaian kepada anaknya, tetapi harus berusaha bagaimana agar anaknya menjadi pandai, bahagia dan berguna bagi masyarakat, bangsa dan negara.
Pada hakekatnya usaha-usaha yang dlakukan dalam pendidikan memang tertuju pada masalah keseimbangan, keselarasan, keserasian perkembangan kepribadian dan kemampuan manusia. Emmanuel Kant mengatakan bahwa “ manusia hanya dapat menjadi manusia karena pendidikan”.
Prof. Dr. N. Driyarkoro memberi istilah “hominisasi ke humanisasi“ (memanusiakan manusia). Jadi jika manusia itu tidak dididik maka tidak akan menjadi manusia yang sebenarnya.
Perkembangan manusia dipengaruhi oleh faktor dari dalam dirinya dan faktor dari luar. Faktor dari dalam meliputi semua potensi yang dibawa sejak lahir, potensi ini tetap terpendam apabila tidak dikembangkan melalui pendidikan, ini pun juga tergantung dari kemauan (aktivitet). Jadi pendidikan fungsinya untuk mengaktualisasikan potensi-potensi tersebut. Faktor dari luar yang dapat mempengaruhi perkembangan manusia yaitu lingkungan alam. Artinya lingkungan anak dengan anak, anak dengan orang dewasa, orang dewasa dengan orang dewasa yang saling berinteraksi. Lingkungan budaya berupa sopan santun, TV dan majalah. Serta lingkungan alam secara geografisnya, namun karena perkembangan iptek pengaruh lingkungan alam dapat diatasi.[3]
2.2 Batas-batas Kemungkinan Pendidikan
            Dalam menentukan batas batas pendidikan manusia akan mengalami persoalan, mereka akan menemui   beberapa pertanyaan tentang kapan pendidikan dimulai dan bila mana pendidikan akan berakhirDan juga pernah kita temukan satu istilah dalam bahasa inggris yang menyatakan : "Long Live Education” yang artinya  “Pendidikan Seumur Hidup”.
Dari pernyataan pernyatan tersebut tergambarkan jelas bahwa pendidikan akan dimulai segera setelah anak lahir dan akan berlangsung terus sampai manusia meninggal dunia, sepanjang ia mampu menerima pengaruh-pengaruh. Oleh karena itu pendidikan akan berlangsung seumur hidup.

            Namun dalam mengalami proses pendidikan menusia akan mendapatkan pendidikan dimana akan terdapat pembatasan nyata dari proses pendidikan dalam jangka waktu tertentu. [4]

1.    Kapan pendidikan itu dimulai ?

            Pendidikan dimulai dengan pemeliharaan yang merupakan persiapan ke arah pendidikan nyata, yaitu pada minggu dan bulan pertama seorang anak dilahirkan, sedangkan pendidikan yang sesungguhnya baru terjadi kemudian. Pendidikan dalam bentuk pemeliharaan adalah bersifat murni, sebab pada pendidikan murni diperlukan adanya kesadaran mental dari si terdidik.
Dari segi psikologis usia 3 – 4 tahun dikenal sebagai masa berkembang atau masa krisis, dari segi pendidikan justru pada masa itu terbuka peluang ketidak patuhan yang sekaligus merupakan landasan untuk menegakkan kepatuhan yang sesungguhnya. Disini pulalah mulai terbuka penyelenggaraan pendidikan artinya sentuhan-sentuhan pendidikan untuk menumbuh kembangkan motivasi anak dalam perilakunya ke arah tujuan pendidikan.





2.    Bilamana pendidikan itu berakhir ?

            Sebagaimana sulitnya menetapkan kapan sesungguhnya pendidikan anak berlangsung untuk pertama kalinya, begitu pulalah sulitnya menentukan kapan pendidikan itu berlangsung untuk terakhir kalinya.
Sehubungan dengan itu, perlu suatu kehati-hatian kalau juga ingin mengatakan bahwa sepanjang tatanan yang berlaku, proses pendidikan itu mempunyai titik akhir yang bersifat alamiah. Titik akhir bersifat prinsipel  dan tercapai bila seseorang manusia muda itu dapat berdiri sendiri dan secara mantap mengembangkan serta melaksanakan rencana sesuai pandangan hidupnya.
Pada kondisi yang disebutkan di atas pendidikan sudah tidak menjadi masalah lagi, ia telah dapat mendidik dirinya sendiri, tetapi tidaklah dapat disangkal bahwa mungkin juga diperlukan untuk tetap menerima ajaran dalam bidang-bidang tertentu dalam memajukan kehidupanya, bantuan pendidikan yang demikian itu disebut pembentukan manusia dewasa.
            Adapun secara umum yang disebut manusia dewasa adalah :

                  1.   Manusia mandiri
Dapat hidup sendiri, mengambil keputusan sendiri tanpa menggantungkan diri kepada orang lain.

                  2.    Manusia yang bertanggung jawab
 Manusia yang dapat mempertanggungjawabkan segala perbuatannya
 dan dapat dimintai pertanggung jawaban dari perbuatannya.



3.    Manusia yang mampu memahami dan melakukan norma serta            moral dalam kehidupan
Maka dari itu, manusia dewasa akan lebih dapat mendidik dirinya sendiri dibandingkan orang lain, namun dalam keadaan tertentu manusia dewasa juga akan membutuhkan didikan dari orang lain.

2.3  Hasil Pendidikan
Hasil Pendidikan berupa perubahan sikap dan tingkah laku. Contohnya, penambahan keterampilan, pengetahuan, cara bersosialisasi, menerapkan aturan, tata karma dan nilai-nilai. [5]








BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Dari seluruh uraian pada bab pembahasan, penulis dapat menarik kesimpulan yaitu :
1.      Manusia harus dididik, karena manusia lahir dalam keadaan tak berdaya, lahir tidak langsung dewasa dan merupakan makhluk social yang membutuhkan interaksi dengan orang lain.

2.   Manusia dapat di didik karena manusia dapat memiliki, memperbaiki dan         mengembangkan hati nurani, perasaan, nilai-nilai atau norma susila yang    dapat membedakan dirinya dengan makhluk lain. Pendidikan akan di     alami manusia seumur hidup, namun batas batas nyata kemungkinan           pendidikan pada manusia dimulai sejak manusia tersebut memiliki          kesiapan dalam berinteraksi edukatif hingga mencapai kedewasaan yang    dilalui dengan proses kematangan.

            Manusia adalah subjek pendidikan sekaligus objek pendidikan. Sebagai subjek pendidikan, manusia (dewasa) bertanggung jawab dalam menyelenggarakan pendidikan secara moral, berkewajiban atas perkembangan pribadi anak-anak mereka.
            Sebagai objek pendidikan, manusia (anak) merupakan sasaran pembinaan dalam melaksanakan pendidikan yang pada hakikatnya ia memiliki pribadi yang sama seperti manusia dewasa namun karena kodratnya belum berkembang. [6]
Dalam realita sekarang ini banyak anak didik yang moralnya buruk, seperti tawuran, memakai narkoba, dll. Untuk itu pendidikan agama harus ditingkatkan, baik itu di keluarga, sekolah, maupun lingkungan masyarakat. Dengan ditanamkannya ajaran tentang agama sejak dini sehingga anak didik akan dapat membedakan antara yang baik dan yang buruk. Betapa pentingnya pendidikan agama bagi warga negara Indonesia, terbukti dari peraturan pemerintah yang mengharuskan pendidikan agama diberikan sejak anak itu bersekolah di TK sampai perguruan tinggi.
Berdasarkan hakekat manusia dan hakekat pendidikan, kiranya cukup jelas dalam memberikan alasan mengapa manusia perlu dididik, pendidikan harus dapat mengembangkan semua potensi yang ada pada manusia. Baik perkembangan cipta, rasa, karsa, keterampilan, jasmani dan rohani, moral maupun ke Tuhanan dan didukung oleh lingkungan yang kondusif terhadap pertumbuhan si anak menuju kedewasaannya.



[1] Ekosusilo, M dan Kasihadi, R.B. 1993. Dasar-dasar pendidikan, Semarang : Effhar Publishing.

Senin, 26 November 2012 0 komentar

HUBUNGAN ANTARA TEORITIS DAN PRAKTIS PADA ILMU PENDIDIKAN
Pada dasarnya semua ilmu dapat dibagi menjadi 2 yaitu ilmu murni dan ilmu terapan.

Ilmu Murni
Ilmu Murni adalah ilmu yang membahas/ mendalami ilmu itu sendiri. Dalam pendidikan ilmu murni akan tampak dari adanya usaha untuk membahas teori-teori pendidikan secara dalam

Imu Terapan
Ilmu terapan adalah usaha-usaha menerapkan dalam kegiatan proses kehidupan (sebagai alat yang memudahkan kehidupan)


Perbedaan Ilmu Pengetahuan Murni dan Terapan:
* Ilmu Pengetahuan Murni berfokus kepada teori yang ditujukan untuk menemukan pengetahuan baru.
            Misalnya, penelitian mata manusia.
* Sedangkan Ilmu Pengetahuan Terapan menempatkan teori-teori ke dalam praktek dengan tujuan mencari solusi dari sebuah masalah.
            Contohnya ketika diketahui bahwa mata dapat bermasalah, para ilmuwan berhasil menemukan kacamata. Melalui Ilmu Pengetahuan Terapan ini kita mendapatkan berbagai produk dan layanan baru, tetapi perkembangan ini berawal mula dari kemajuan dalam Ilmu Pengetahuan Murni.


Hubungan Antara Teoritis(Ilmu Murni) dan Praktis(Ilmu Terapan)
Pada Ilmu Pendidikan (Teknologi)

Ilmu pengetahuan murni (Fisika, Matematika, Kimia, dan Biologi) dan Ilmu pengetahuan terapan(teknologi) merupakan dua hal yang saling berhubungan satu sama lain. Teknologi tidak akan bisa berkembang tanpa adanya ilmu pengetahuan murni, dan sebaliknya ilmu pengetahuan membutuhkan teknologi untuk menyediakan fasilitas dan peralatan penelitian yang akurat. Sebagai contoh, mesin uap tidak akan ditemukan tanpa adanya penelitian di bidang ilmu pengetahuan fisika. Di lain pihak, keberhasilan pembuatan mesin uap ini mendorong penelitian lebih lanjut dalam bidang ilmu murni yang berkaitan dengan teori panas dan termodinamika.


Makalah PIP Kelompok 4
Dosen: Bapak Ahmad Sadek
0 komentar

HAKIKAT FENOMENOLOGI ILMU PENDIDIKAN
Hakekat Fenomenologi

Fenomenologi (Inggris: Phenomenology) berasal dari bahasa Yunani phainomenon dan logos. Phainomenon berarti tampak dan phainen berarti memperlihatkan. Sedangkan logos berarti kata, ucapan, rasio, pertimbangan. Dengan demikian, fenomenologi secara umum dapat diartikan sebagai kajian terhadap fenomena atau apa-apa yang nampak. Lorens Bagus memberikan dua pengertian terhadap fenomenologi. Dalam arti luas, fenomenologi berarti ilmu tentang gejala-gejala atau apa saja yang tampak. Dalam arti sempit, ilmu tentang gejala-gejala yang menampakkan diri pada kesadaran kita.
Sebagai sebuah arah baru dalam filsafat, fenomenologi dimulai oleh Edmund Husserl (1859 – 1938), untuk mematok suatu dasar yang tak dapat dibantah, ia memakai apa yang disebutnya metode fenomenologis. Ia kemudian dikenal sebagai tokoh besar dalam mengembangkan fenomenologi. Namun istilah fenomenologi itu sendiri sudah ada sebelum Husserl. Istilah fenomenologi secara filosofis pertama kali dipakai oleh J.H. Lambert (1764). Dia memasukkan dalam kebenaran (alethiologia), ajaran mengenai gejala (fenomenologia). Maksudnya adalah menemukan sebab-sebab subjektif dan objektif ciri-ciri bayangan objek pengalaman inderawi (fenomen).
Immanuel Kant memakai istilah fenomenologi dalam karyanya Prinsip-Prinsip Pertama Metafisika (1786). Maksud Kant adalah untuk menjelaskan kaitan antara konsep fisik gerakan dan kategori modalitas, dengan mempelajari ciri-ciri dalam relasi umum dan representasi, yakni fenomena indera-indera lahiriah.
Hegel (1807) memperluas pengertian fenomenologi dengan merumuskannya sebagai ilmu mengenai pengalaman kesadaran, yakni suatu pemaparan dialektis perjalanan kesadaran kodrati menuju kepada pengetahuan yang sebenarnya. Fenomenologi menunjukkan proses menjadi ilmu pengetahuan pada umumnya dan kemampuan mengetahui sebagai perjalanan jiwa lewat bentuk-bentuk atau gambaran kesadaran yang bertahap untuk sampai kepada pengetahuan mutlak. Bagi Hegel, fenomena tidak lain merupakan penampakkan atau kegejalaan dari pengetahuan inderawi: fenomena-fenomena merupakan manifestasi konkret dan historis dari perkembangan pikiran manusia.
Edmund Husserl memahami fenomenologi sebagai suatu analisis deskriptif serta introspektif mengenai kedalaman dari semua bentuk kesadaran dan pengalaman-pengalaman langsung; religius, moral, estetis, konseptual, serta indrawi. Perhatian filsafat, menurutnya, hendaknya difokuskan pada penyelidikan tentang Labenswelt (dunia kehidupan) atau Erlebnisse (kehidupan subjektif dan batiniah). Penyelidikan ini hendaknya menekankan watak intensional kesadaran, dan tanpa mengandaikan praduga-praduga konseptual dari ilmu-ilmu empiris.

Dari segi fenomenologis dapat dilihat bahwa :
1. Manusia sejak dilahirkan itu merdeka, artinya manusia memiliki kebebasan untuk menentukan sediri pilihannya. Ia bebas bertingkah laku sesuai dengan kemampuannya. Ia juga dapat mengemukakan pendapat, kemauan dan perasaannya kepada orang lain tanpa paksaan. Ia juga punya kebebasan untuk mengembangkan potensinya semaksimal mungkin sesuai dengan kemampuan yang ada padanya. Untuk itu pendidik perlu menyediakan kondisi dan situasi dan situasi dimana anak dapat menutarakan pikiran, kemauan, dan perasaannya dengan jelas dan terbuka serta membimbing dan mengarahkan kearah pencapaian kepribadian yang utuh.

2. Kelahiran manusia dibatasi dengan kodrat yang telah ditentukan tuhan, artinya tiap manusia mempunyai keterbatasan kodrati, apakah ia laki laki maupun perempuan. Dalam hubungannya degan sifat kodrat manusia tidak bisa memilih.

3. Manusia pada hakekatnya perlu bantuan orang lain. Ia tidak berdaya untuk hidup sendiri tanpa bantuan orang lain. Untuk itu manusia selalu berusaha mengadakan kontak dengan lingkungan sekitar. Sejak kelahirannya anak memerlukan bantuan ibunya untuk dapat bertahan hidup.selanjutnya dalam perkembangannya ia butuh bantuan orang lain untuk dapat tumbuh kembang baik secara fisik maupun mental sampai akhirnya dapat mencapai kemandirian baik jasmani maupun rohani.

4. Berbeda dengan hewan perkembangan manusia itu memerlukan waktu yang panjang. Hewan hanya berkembang dan bertugas mempertahankan hidup, sedangkan manusia bukan hanya sekedar mempertahan kan hidup tetapi juga mempunyai tugas untuk meningkatkan kualitas hidupnya baik jasmani maupun rohani. Dalam perkembangannya ia harus dapat menemukan kehidupannya untuk dapat mencapai kehidupan yang lebih baik dan sejahtera.


Makalah PIP Kelompok 11
Dosen: Bapak Ahmad Sadek

Followers

 
;