Selasa, 27 November 2012 0 komentar

APAKAH PENDIDIKAN ITU ?


APAKAH PENDIDIKAN ITU ?
M.J. Langeveld (1995) :
  1. Pendidikan merupakan upaya manusia dewasa membimbing manusia yang belum dewasa kepada kedewasaan
  2. Pendidikan ialah usaha menolong anak untuk melaksanakan tugastugas hidupnya, agar bisa mandiri, akil-baliq, dan bertanggung jawab secara susila
  3. Pendidikan adalah usaha mencapai penentuan-diri-susila dan tanggung jawab
Pengertian pendidikan secara umum:
Pendidikan adalah : Usaha sadar yang dilakukan menusia dewasa yang bertanggung jawab membantu anak menjadi dewasa[1].
Usaha sadar : pendidikan akan terlaksana jika adanya keinginan yang kuat untuk merubah sesuatu dalam diri kita, dari tahu menjadi lebih tahu, dari bisa menjadi lebih bisa, dan dari baik menjadi lebih baik. Usaha pendidikan memiliki tujuan tertentu sesuai jenjangnya.
a.       Manusia dewasa yang bertanggung jawab atas pendidikan terdiri dari :
-          Orang tua yang bertanggung jawab terhadap pendidikan putra putrinya
-          Guru/pendidik,pelatih yang bertanggung jawab sesuai penugasan yang diterimanya (jadi diperlukan surat keputusan SK, untuk dapat melaksanakan kegiatan mengajar)
-          Tokoh masyarakat (pejabat, kiayi, orang yang disegani) dapat membantu pendidikan sesuai dengan proporsinya.
b.      Cirri-ciri Dewasa
-          Mandiri
-          Berguna bagi orang lain
-          Bertanggung jawab
-          Dapat menghargai aturan/norma
c.       Membantu artinya dengan ikhlas, berniat baik tanpa merasa terpaksa



Pentingnya pendidikan
Pendidikan merupakan hal yang terpenting dalam kehidupan kita,ini berarti bahwa setiap manusia berhak mendapat dan berharap untuk selalu berkembang dalam pendidikan. Pendidikan secara umum mempunyai arti suatu proses kehidupan dalam mengembangkan diri tiap individu untuk dapat hidup dan melangsungkan kehidupan. Sehingga menjadi seorang yang terdidik itu sangat penting. Pendidikan pertama kali yang kita dapatkan di lingkungan keluarga, lingkungan sekolah dan lingkungan masyarakat.
Seorang anak yang disayangi akan menyayangi keluarganya ,sehingga anak akan merasakan bahwa anak dibutuhkan dalam keluarga. Sebab merasa keluarga sebagai sumber kekuatan yang membangunya.Dengan demikian akan timbul suatu situasi yang saling membantu,saling menghargai,yang sangat mendukung perkembangan anak.Di dalam keluarga yang memberi kesempatan maksimum pertumbuhan,dan perkembangan adalah orang tua.Dalam lingkungan keluarga harga diri berkembang karena dihargai,diterima,dicintai,dan dihormati sebagai manusia .Itulah pentingnya mengapa kita menjadi orang yang terdidik di lingkungan
keluarga.Orang tua mengajarkan kepada kita mulai sejak kecil untuk menghargai orang lain.
Sedangkan di lingkungan sekolah yang menjadi pendidikan yang kedua dan apabila orang tua mempunyai cukup uang maka dapat melanjutkannya ke jenjang yang lebih tinggi dan akan melanjutkan ke Perguruan Tinggi kemudian menjadi seorang yang terdidik . Alangkah pentingnya pendidikan itu. Guru sebagai media pendidik memberikan ilmunya sesuai dengan kemampuan yang dimiliki. Peranan guru sebagai pendidik merupakan peran  memberi bantuan dan dorongan ,serta tugas-tugas yang berkaitan dengan mendisiplinkan anak  agar anak dapat mempunyai rasa tanggung jawab dengan apa yang dia lakukan. Guru juga harus berupaya agar pelajaran yang diberikan selalu cukup untuk menarik minat anak .
Selain itu peranan lingkungan masyarakat juga penting bagi anak  didik . Hal ini berarti memberikan gambaran tentang bagaimana kita hidup bermasyarakat.Dengan demikian bila kita berinteraksi dengan masyarakat maka mereka akan menilai kita,bahwa  tahu mana orang yang terdidik,dan  tidak terdidik. Di zaman Era Globalisasi diharapkan generasi muda bisa mengembangkan ilmu yang didapat sehingga tidak ketinggalan dalam perkembangan zaman. Itulah pentingnya menjadi seorang yang terdidik baik di lingkungan Keluarga,Sekolah,dan Masyarakat.
Pendidikan formal, informal dan nonformal
Pendidikan  formal  adalah  kegiatan  yang  sistematis,  bertingkat/berjenjang, dimulai dari  sekolah dasar sampai dengan perguruan tinggi dan yang setaraf dengannya;   termasuk   kedalamnya   ialah   kegiatan   studi   yang   berorientasi akademis  dan  umum,  program   spesialisasi,  dan  latihan  professional,  yang dilaksanakan dalam waktu yang terus menerus.
Pendidikan informal adalah proses yang berlangsung sepanjang usia sehingga sehingga setiap  orang memperoleh nilai, sikap, keterampilan, dan pengetahuan yang  bersumber  dari   pengalaman  hidup  sehari-hari,  pengaruh  lingkungan termasuk di dalamnya adalah pengaruh  kehidupan keluarga, hubungan dengan tetangga, lingkungan pekerjaan dan permainan, pasar, perpustakaan, dan media massa.
Pendidikan nonformal ialah setiap kegiatan teroganisasi dan sistematis, di luar sistem  persekolahan yang , dilakukan secara mandiri atau merupakan bagian penting dari kegiatan  yang lebih luas, yang sengaja dilakukan untuk melayani peserta didik tertentu di dalam mancapai tujuan belajarnya.












[1] Dra. Sri Martini Meilanie, M.Pd (hlm. 14)
0 komentar

Mengapa Manusia perlu di didik?


BAB I
PENDAHULUAN


1.1  Latar Belakang Masalah

Adapun latar belakang penulis dalam mengerjakan makalah ini adalah untuk mengetahui lebih jelas tentang mengapa manusia perlu untuk dididik khususnya untuk mata kuliah Pengantar Ilmu Pendidikan. Selain itu makalah ini dibuat sebagai wadah untuk memperluas wawasan mahasiswa mengenai perlunya pendidikan secara menyeluruh.

1.2  Maksud dan Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan makalah ini adalah :
a.    Melatih mahasiswa mengembangkan bahan ajar melalui karya tulis.
b.   Mendidik mahasiswa untuk mengetahui lebih banyak tentang materi yang
     dijelaskan.
c. Agar mahasiswa mampu menjelaskan materi mengapa manusia perlu dididik
     secara menyeluruh dengan cermat
.
1.3  Rumusan Masalah
Rumusan masalah yang kami angkat dalam makalah ini adalah :
1.      Mengapa manusia perlu dididik ?
2.      Apa saja batas-batas kemungkinan pendidikan ?
3.      Bagaimana hasil dari Pendidikan tersebut ?
BAB II
ISI


2.1 Mengapa Manusia Perlu Dididik ?
Bertolah dari aliran konvergensi inilah saya mencoba menganalisa dan memberi jawab mengapa manusia perlu mendapatkan pendidikan dan mengapa manusia harus dapat mendidik ?
Seperti telah diuraikan diatas bahwa pada hakekatnya manusia itu adalah animal educable (binatang yang dapat dididik), animal educandum (binatang yang harus dididik) dan homo educandus( makhluk yang dapat mendidik). Dari hakekat ini jelas bahwa pendidikan itu merupakan keharusan mutlak bagi manusia. Oleh karena itu mengapa manusia perlu dididik maka dapat ditinjau dari berbagai aspek.[1]
Pada waktu kehidupan permulaan (bayi/anak-anak), mula-mula yang paling berperan adalah dari segi fisik, kemudian secara berangsur-angsur segi rohani berganti memegang peranan penting. Perkembang fisik individu ditentukan oleh dua faktor yaitu maturation (kematangan) dan learning (belajar).

Seorang anak akan dapat berjalan jika memiliki tulang-tulang kaki dan otot yang cukup kuat disertai dorongan untuk berjalan adalah faktor kematangan. Tetapi kematangan itu sendiri belum cukup untuk memiliki kemampuan untuk berjalan, ia harus belajar terus dan dibantu oleh orang lain.
Ditinjau dari sisi lain hakekat manusia adalah sebagai makhluk individu dan sosial, terdiri dari unsur jiwa dan raga yang diciptakan oleh Tuhan lewat hubungan orang tua untuk hiduh bersama secara sah lewat pernikahan, karena itu secara kodrat orang tua harus mendidik anak-anaknya secara bertanggung jawab.[2]
Orang tua tidak cukup hanya memberikan makan minum pakaian kepada anaknya, tetapi harus berusaha bagaimana agar anaknya menjadi pandai, bahagia dan berguna bagi masyarakat, bangsa dan negara.
Pada hakekatnya usaha-usaha yang dlakukan dalam pendidikan memang tertuju pada masalah keseimbangan, keselarasan, keserasian perkembangan kepribadian dan kemampuan manusia. Emmanuel Kant mengatakan bahwa “ manusia hanya dapat menjadi manusia karena pendidikan”.
Prof. Dr. N. Driyarkoro memberi istilah “hominisasi ke humanisasi“ (memanusiakan manusia). Jadi jika manusia itu tidak dididik maka tidak akan menjadi manusia yang sebenarnya.
Perkembangan manusia dipengaruhi oleh faktor dari dalam dirinya dan faktor dari luar. Faktor dari dalam meliputi semua potensi yang dibawa sejak lahir, potensi ini tetap terpendam apabila tidak dikembangkan melalui pendidikan, ini pun juga tergantung dari kemauan (aktivitet). Jadi pendidikan fungsinya untuk mengaktualisasikan potensi-potensi tersebut. Faktor dari luar yang dapat mempengaruhi perkembangan manusia yaitu lingkungan alam. Artinya lingkungan anak dengan anak, anak dengan orang dewasa, orang dewasa dengan orang dewasa yang saling berinteraksi. Lingkungan budaya berupa sopan santun, TV dan majalah. Serta lingkungan alam secara geografisnya, namun karena perkembangan iptek pengaruh lingkungan alam dapat diatasi.[3]
2.2 Batas-batas Kemungkinan Pendidikan
            Dalam menentukan batas batas pendidikan manusia akan mengalami persoalan, mereka akan menemui   beberapa pertanyaan tentang kapan pendidikan dimulai dan bila mana pendidikan akan berakhirDan juga pernah kita temukan satu istilah dalam bahasa inggris yang menyatakan : "Long Live Education” yang artinya  “Pendidikan Seumur Hidup”.
Dari pernyataan pernyatan tersebut tergambarkan jelas bahwa pendidikan akan dimulai segera setelah anak lahir dan akan berlangsung terus sampai manusia meninggal dunia, sepanjang ia mampu menerima pengaruh-pengaruh. Oleh karena itu pendidikan akan berlangsung seumur hidup.

            Namun dalam mengalami proses pendidikan menusia akan mendapatkan pendidikan dimana akan terdapat pembatasan nyata dari proses pendidikan dalam jangka waktu tertentu. [4]

1.    Kapan pendidikan itu dimulai ?

            Pendidikan dimulai dengan pemeliharaan yang merupakan persiapan ke arah pendidikan nyata, yaitu pada minggu dan bulan pertama seorang anak dilahirkan, sedangkan pendidikan yang sesungguhnya baru terjadi kemudian. Pendidikan dalam bentuk pemeliharaan adalah bersifat murni, sebab pada pendidikan murni diperlukan adanya kesadaran mental dari si terdidik.
Dari segi psikologis usia 3 – 4 tahun dikenal sebagai masa berkembang atau masa krisis, dari segi pendidikan justru pada masa itu terbuka peluang ketidak patuhan yang sekaligus merupakan landasan untuk menegakkan kepatuhan yang sesungguhnya. Disini pulalah mulai terbuka penyelenggaraan pendidikan artinya sentuhan-sentuhan pendidikan untuk menumbuh kembangkan motivasi anak dalam perilakunya ke arah tujuan pendidikan.





2.    Bilamana pendidikan itu berakhir ?

            Sebagaimana sulitnya menetapkan kapan sesungguhnya pendidikan anak berlangsung untuk pertama kalinya, begitu pulalah sulitnya menentukan kapan pendidikan itu berlangsung untuk terakhir kalinya.
Sehubungan dengan itu, perlu suatu kehati-hatian kalau juga ingin mengatakan bahwa sepanjang tatanan yang berlaku, proses pendidikan itu mempunyai titik akhir yang bersifat alamiah. Titik akhir bersifat prinsipel  dan tercapai bila seseorang manusia muda itu dapat berdiri sendiri dan secara mantap mengembangkan serta melaksanakan rencana sesuai pandangan hidupnya.
Pada kondisi yang disebutkan di atas pendidikan sudah tidak menjadi masalah lagi, ia telah dapat mendidik dirinya sendiri, tetapi tidaklah dapat disangkal bahwa mungkin juga diperlukan untuk tetap menerima ajaran dalam bidang-bidang tertentu dalam memajukan kehidupanya, bantuan pendidikan yang demikian itu disebut pembentukan manusia dewasa.
            Adapun secara umum yang disebut manusia dewasa adalah :

                  1.   Manusia mandiri
Dapat hidup sendiri, mengambil keputusan sendiri tanpa menggantungkan diri kepada orang lain.

                  2.    Manusia yang bertanggung jawab
 Manusia yang dapat mempertanggungjawabkan segala perbuatannya
 dan dapat dimintai pertanggung jawaban dari perbuatannya.



3.    Manusia yang mampu memahami dan melakukan norma serta            moral dalam kehidupan
Maka dari itu, manusia dewasa akan lebih dapat mendidik dirinya sendiri dibandingkan orang lain, namun dalam keadaan tertentu manusia dewasa juga akan membutuhkan didikan dari orang lain.

2.3  Hasil Pendidikan
Hasil Pendidikan berupa perubahan sikap dan tingkah laku. Contohnya, penambahan keterampilan, pengetahuan, cara bersosialisasi, menerapkan aturan, tata karma dan nilai-nilai. [5]








BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Dari seluruh uraian pada bab pembahasan, penulis dapat menarik kesimpulan yaitu :
1.      Manusia harus dididik, karena manusia lahir dalam keadaan tak berdaya, lahir tidak langsung dewasa dan merupakan makhluk social yang membutuhkan interaksi dengan orang lain.

2.   Manusia dapat di didik karena manusia dapat memiliki, memperbaiki dan         mengembangkan hati nurani, perasaan, nilai-nilai atau norma susila yang    dapat membedakan dirinya dengan makhluk lain. Pendidikan akan di     alami manusia seumur hidup, namun batas batas nyata kemungkinan           pendidikan pada manusia dimulai sejak manusia tersebut memiliki          kesiapan dalam berinteraksi edukatif hingga mencapai kedewasaan yang    dilalui dengan proses kematangan.

            Manusia adalah subjek pendidikan sekaligus objek pendidikan. Sebagai subjek pendidikan, manusia (dewasa) bertanggung jawab dalam menyelenggarakan pendidikan secara moral, berkewajiban atas perkembangan pribadi anak-anak mereka.
            Sebagai objek pendidikan, manusia (anak) merupakan sasaran pembinaan dalam melaksanakan pendidikan yang pada hakikatnya ia memiliki pribadi yang sama seperti manusia dewasa namun karena kodratnya belum berkembang. [6]
Dalam realita sekarang ini banyak anak didik yang moralnya buruk, seperti tawuran, memakai narkoba, dll. Untuk itu pendidikan agama harus ditingkatkan, baik itu di keluarga, sekolah, maupun lingkungan masyarakat. Dengan ditanamkannya ajaran tentang agama sejak dini sehingga anak didik akan dapat membedakan antara yang baik dan yang buruk. Betapa pentingnya pendidikan agama bagi warga negara Indonesia, terbukti dari peraturan pemerintah yang mengharuskan pendidikan agama diberikan sejak anak itu bersekolah di TK sampai perguruan tinggi.
Berdasarkan hakekat manusia dan hakekat pendidikan, kiranya cukup jelas dalam memberikan alasan mengapa manusia perlu dididik, pendidikan harus dapat mengembangkan semua potensi yang ada pada manusia. Baik perkembangan cipta, rasa, karsa, keterampilan, jasmani dan rohani, moral maupun ke Tuhanan dan didukung oleh lingkungan yang kondusif terhadap pertumbuhan si anak menuju kedewasaannya.



[1] Ekosusilo, M dan Kasihadi, R.B. 1993. Dasar-dasar pendidikan, Semarang : Effhar Publishing.

0 komentar

DAMPAK FILM TELEVISI TERHADAP PERILAKU SISWA


Kata Pengantar

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat serta karunia-Nya kepada kami sehingga kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Dampak Film Televisi terhadap Perilaku Siswa” tepat pada waktunya.
Makalah ini berisikan informasi tentang teknologi informasi dan komunikasi dalam dunia pendidikan. Diharapkan makalah ini dapat memberikan segala informasi kepada kita semua tentang teknologi informasi dan komunikasi dalam dunia pendidikan.
Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu kami harapkan demi kesempurnaan makalah ini.
Akhir kata, kami sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah berperan dalam penyusunan makalah ini dari awal hingga akhir. Semoga Allah SWT senantiasa meridhai segala usaha kita. Amin.



Jakarta, 25 November 2012



Tim Penyusun Makalah



ii
Daftar Isi
Kata Pengantar ........................................................................................................................ ii
Daftar Isi ................................................................................................................................. iii
Bab I Pendahuluan
A.    Latar BelakangMasalah . ............................................................................................ 1
B.     Tujuan .......................................................................................................................... 2
C.     Rumusan Masalah ....................................................................................................... 2
Bab II Pembahasan
A.    Tayangan televisi di Era Modern ................................................................................. 3
B.     Acara Televisi serta Dampaknya .................................................................................. 4
1.      Iklan  ....................................................................................................................... 4
2.      Film Komedi .......................................................................................................... 4
3.      Film Drama Keluarga............................................................................................. 5
4.      Film Horor/Setan .................................................................................................... 5
5.      Film Kartun............................................................................................................ 6
6.      Film Keagamaan .................................................................................................... 6
C.     Cara Mengantisipasi Dampak Buruk Film Televisi .....................................................7
Bab III Kesimpulan dan Saran...............................................................................................
Tugas Penguasaan ................................................................................................................. 13
Daftar Pustaka ........................................................................................................................ iv

iii



Bab I
Pendahuluan

A.    Latar Belakang Masalah
Pada jaman sekarang ini Televisi merupakan media massa elektronik yang mampu meyebarkan berita secara cepat dan memiliki kemampuan mencapai khalayak dalam jumlah tak terhingga pada waktu yang bersamaan. Televisi dengan berbagai acara yang ditayangkannya telah mampu menarik minat pemirsanya, dan membuat pemirsannya ‘ketagihan’ untuk selalu menyaksikan acara-acara yang ditayangkan. bahkan bagi anak-anak sekalipun sudah merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari aktivitas kesehariannya, bahkan menonton televisi sudah menjadi agenda wajib bagi mereka.

Dengan berbagai acara yang ditayangkan mulai dari infotainment, entertainment, iklan, sampai pada sinetron-sinetron dan film-film yang berbau kekerasan, televisi telah mampu membius para pemirsanya (anak-anak, remaja dan orang tua) untuk terus menyaksikan acara demi acara yang dikemas sedemikian rupa, dan di bubuhi dengan assesories-assesories yang menarik, sehingga membuat pemirsanya terkagum-kagum dengan acara yang disajikan. Tidak jarang sekarang ini banyak anak-anak lebih suka berlama-lama didepan televisi dari pada belajar, bahkan hampir-hampir lupa akan waktu makannya. Ini merupakan suatu problematika yang terjadi dilingkungan kita sekarang ini, dan perlu perhatian khusus bagi setiap orang tua untuk selalu mengawasi aktivitas anaknya.

Tidak dipungkiri, dengan adanya media massa televisi ini, banyak sekali manfaat yang bisa kita ambil. Dimana kita akan dengan cepat memperoleh informasi-informasi terbaru yang terjadi dimana pun dan belahan dunia manapun. Dengan adanya televisi akan mempermudah suatu perusahaan atau badan usaha untuk mempromosikan produk-produknya, sehingga konsumen mengetahui dan dapat dengan mudah mencari produk tersebut, serta masih banyak lagi keuntungan-keuntungan yang dapat kita peroleh dengan adanya media televisi.

Jika kita kaji lebih jauh sebenarnya media massa televisi mempunyai fungsi utama yang selalu harus diperhatikan yaitu fungsi informatif, edukatif, rekreatif dan sebagai sarana mensosialisasikan nilai-nilai atau pemahaman-pemahaman baik yang lama maupun yang baru. Namun jika kita lihat kenyataannya sekarang ini, acara-acara televisi lebih kepada fungsi informatif dan rekreatif saja, sedangkan fungsi edukatif yang merupakan fungsi yang sangat penting untuk disampaikan, sangat sedikit sekali. Hal ini bisa kita lihat dari susunan acara-acara televisi, kebanyakan hanya acara-acara sinetron dan infotainment saja. Sedangkan acara-acara yang mengarah kepada edukatif atau pendidikan sangat kecil sekali frekuensinya.



1
B.     Tujuan
·         untuk mengetahui seberapa besar dampak negatif dan positif film televisi terhadap perilaku siswa
·         Mengerjakan tugas makalah dan presentasi kelompok mata kuliah Pengantar Teknologi Informasi dan Komunikasi yang diempu oleh Bapak Cecep Kustandi, M.Pd.

C.     Rumusan Masalah
·         Apa peranan tayangan televisi bagi siswa?
·         apa dampak positif dan negatif tayangan televisi bagi siswa?































2
Bab II
Pembahasan

A.                Tayangan Televisi di Era Modern

Tayangan televisi merupakan teman bagi mayoritas orang untuk mengisi waktu santai, saat berkumpul bersama keluarga atau teman, atau hanya untuk sekedar melepaskan penat dengan menonton tayangan -tayangan ringan di televisi. Di era modern ini, stasiun televisi telah menjamur dengan semakin banyaknya stasiun televisi swasta di Indonesia, apalagi penyedia layanan televisi kabel ada dimana-mana sehingga membuat kita malas beranjak dari tayangan televisi untuk belajar atau mengerjakan tugas. Tidak dipungkiri, dengan adanya media massa televisi ini, banyak sekali manfaat yang bisa kita ambil, namun jika kita lihat kenyataannya sekarang ini, acara-acara televisi lebih kepada fungsi informatif dan rekreatif saja, sedangkan fungsi edukatif yang merupakan fungsi yang sangat penting untuk disampaikan, sangat sedikit sekali. Hal ini bisa kita lihat dari susunan acara-acara televisi, kebanyakan hanya acara-acara sinetron dan infotainment saja. Sedangkan acara-acara yang mengarah kepada edukatif atau pendidikan sangat kecil sekali frekuensinya. hal ini tidak layak bagi para pelajar.

jika kita tengok ke tayagan remaja, cerita yang diusung tidak jauh dari asmara, air mata, kekejaman dan harta. Gaya berpakaian artis nya punsering melecehkan kaum hawa, seragam-seragam yang dikenakan pun pastiseragam yang terlalu vulgar.Tayangan yang sangat diminati oleh ibu rumah tangga di Indonesia adalah infotainment, yang mana di dalamnya terlalu mengungkit kepentingan pribadi selebriti dan tidak jarang juga menimbulkan fitnah sertatidak mendidik jika tayangan ini sampai ditonton oleh anak-anak. Acara kuis yang ditayangkan di televisi lokal kebanyakan merupakanacara kuis yang sukses di luar negeri, dengan itu pihak televisi membuat acara yang serupa dengan acara kuis tersebut, contohnya saja Deal or No Deal yang sukses di negeri Belanda, serta masih banyak lagi yang lainnya. Program reality show zaman sekarang pun sudah tidak patut lagi disebut reality show karena didalamnya berisi adegan yang direncanakan, tayangan ini semata-mata hanya membodohi masyarakat agar percaya dan tertarik menonton tayangan tersebut.








3

B.                 Acara Televisi Serta Dampaknya

1.      Iklan
Sekarang sudah banyak fariasi iklan yang di tayangkan di televisi untuk menarik pelanggan atau konsumen. Banyak berbagai cara para produsen untuk menarik pelanggan mulai dari menggunakan fenomena fenomena sosial yang sedang menjadi trend di masyarakat bahkan saling menjelek jelekkan iklan lainnya.

Dampak positif siswa menonton iklan :
-        Mencintai dan mengetahui produk dalam negri
-        Dapat menambah pengetahuan
-        Mengetahui barang barang yang berguna
-        Mengikuti teknologi
-        Mengetahui lingkungan hidup
Ada pun dampak negatif menonton iklan :
-        Siswa ingin mencoba barang yang tidak pantas untuk dirinya
-        Meniru gerakan yang diperagakan
-        Ingin memiliki semua yang diiklan kan
-        Tidak semua produk yang sesuai dengan dirinya

2.      Film komedi
Banyak stasiun televisi berlomba lomba menayangkan acara komedi yang dapat menghibur semua orang. Banyak orang yang sudah tidak sempat mendapatkan hiburan dari tempat rekreasi karna kesibukannya atau kendala biaya yang cukup mahal, oleh sebab itu acara komedi lah alternatif cara untuk mendapatkan hiburan yang murah meriah.
Dampak positif :
-        Menghibur
-        Belajar humor
-        Menguraangi stres
-        Meniru perilaku yang baik
Dampak negatif :
-        Banyak komedi yang kurang mendidik
-        Anak menjadi kurang/tidak serius
-        Mengganggu orang
-        Anak suka iseng dan banyak bercanda
-        Tidak bisa membedakan antara serius dan bercanda
4                   
3.      Film drama keluarga (sinetron)
Sebagian besar masyarakat kita pasti suka menuntun sinetron terutama ibu-ibu dan remaja putri, mereka selalu setia menonton setiap episode dari acara sinetron tersebut. Belakangan ini, juga banyak film drama yang berasal dari luar negri seperti jepang dan korea yang di sambut baik oleh masyarakat kita.

Dampak positif :
-        Menghargai orang tua
-        Memanfaatkan pesan baik
-        Lebih mengenal kehidupan
-        Membangun rasa simpatik dan kasih sayang
-        Belajar memecahkan masalah
Dampak negatif :
-        Sering menampilkan kekerasan
-        Menimbulkan contoh yang tidak baik
-        Menonjolkan percintaan
-        Meniru yang antagonis
-        Takut akibat buruk

4.      Film horor/setan
Di masyarakat Indonesia yang msih percaya akan hal hal yang goib, sangat suka dengan film horor yang ke banyakan ceritanya mengangkat dari cerita masyarakat, akan tetapi film horor di indonesia banyak di bumbui dengan adegan panas yang sebenarnya kurang pantas.

Dampak positif :
-        Anak menjadi pemberani
-        Meyakini bahwa ada alam goib
-        Membuat hiburan
-        Tahu cerita legenda dan misteri
Dampak negatif :
-        Anak suka mengkhayal
-        Menimbulkan rasa takut
-        Membodohi anak
-        Ada adegan yang kurang pantas




5
5.      Film kartun
Banyak stasiun televisi yang menayangkan film kartun yang sebagian besar adalah kartun dari luar negeri yang di beli hak siarnya untuk di tayang di Indonesia tapi belakangan ini sudah banyak keluar film kartun dari dalam negeri yang tidak mau kalah bersaing dengan kartun buatan luar negeri.

Dampak positif :
-        Anak terhibur dan senang
-        Banyak sikap yang positif untuk di tiru
-        Lucu, banyak akal sesuai jiwa anak
-        Mendidik sopan santun
-        Perkembangan teknologi animasi
-        Meningkatkan imajinasi
Dampak negatif :
-        Banyak waktu tersita untuk menonton kartun
-        Terlalu menghayal
-        Anak berkeinginan meniru

6.      Film keagamaan
Pada zaman sekarang akhlak dan iman manusia banyak berkurang karna perubahan pola kehidupan dan karena dampak budaya dari  barat yang kurang baik. Maka dari itu perlu ada acara keagamaan di televisi agar dapat memberikan pengetahuan tentang agamanya.

Dampak positif :
-        Mencotoh tindakan yang positif
-        Menanamkan aqidah dan budi pekerti
-        Meningkatkan ketakwaan dan keimanan
-        Ingat kepada tuhan
-        Memberi tuntunan hidup

Dampak negatif :
-        Terdapat penyampaian yang kurang sesuai
-        Pelakunya tidak sesuai kenyataan
-        Meniru perbuatan yang negatif
-        Ada unsur yang di buat buat


6
C.    Mengantisipasi Dampak Buruk Televisi

Mendampingi nonton televisi
Ketika anak nonton televisi, tidak adalagi yang paling ideal untuk mendampingi anak untuk menonton kecuali orang tua. Orang tua di tuntut dapat menjelaskan adegan / tayangan yang ada di televisi dan juga memberikan penjelasan tentang perlunya mendapatkan informasi yang lengkap dan menyeluruh terhadap anak anaknya.

Komunikasi keluarga
Kini permasalahan yang mendasar adalah banyak orang tua yang tidak sempat mendampingi anak anaknya nonton televisi sebagai akibat keterbatasan waktu dan kesibukan sehari hari. Jika orang tua memiliki waktu yang sempit untuk berkomunikasi, maka yang penting adalah kualitas dari komunikasi tersebut. Kecanggihan alat komunikasi khususnya handphone sangat membantu menjaga komunikasi antar anak dan orang tua.

Keteladanan orang tua
Perlu di pahami bahwa anak sering meniru kebiasaan orang tuanya. Ada kalanya orang tua kita ketika kita sedang menonton televisi kita di suruh berhenti untuk belajar sementara mereka sendiri malah asik nonton, sebenarnya itu perbuatan yang salah karena seharusnya orang tua menjadi contoh yang baik bagi anaknya.

Mengkritisi stasiun televisi
Mengajukan saran, usul, keberatan terhadap sebuah tayangan televisi perlu di budayakan. Sebagai warga negara kita memiliki hak untuk mendapatkan perlindungan atas siaran telivisi. Kritik saran usul dapat kita sampaikan langsung kepada stasiun televisi tersebut dan juga ada lembaga yang bertugas mengawasi dan mengatur penyiaran yang di sebut Komisi Penyiaran Indonesia (KPI). Di lembaga tersebut kita bisa memberikan masukan, kritik atau bahkan melaporkan sebuah stasiun televisi yang menyangkan acara yang kurang pantas.







7
Bab III
Kesimpulan dan Saran


Kesimpulan dan Saran
Menonton televisi boleh apalagi sebagai sarana hiburan dan penambah informasi tapi harus di batasi menontonnya agar tidak mengganggu aktifitas lainnya khususnya bagi pelajar yang biasanya menjadi malas untuk belajar dan mengerjakan tugas dan lebih memilih untuk menonton televisi. Untuk para orang tua sebaiknya menentukan waktu menonton televisi bagi anaknya dan dapat mendampingi anaknya yang masih di bawah umur untuk menonton televisi yang sesuai dengan dirinya.





























8
Daftar Pustaka
3.      Aronson, Elliot, Wilson Teinthy D, and Akert, Robin M. (1994). Social Psychology: The Heart and The Mind. New York: Harper Collins College Publishers.





































iv

Followers

 
;